Mengenal Tari Lengger, Kesenian Khas Wonosobo


Wonosobo merupakan sebuah kabupaten di provinsi Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan kabupaten Temanggung dan kabupaten Magelang di bagian timur, kabupaten Purworejo di bagian selatan, kabupaten Kebumen dan kabupaten Banjarnegara di bagian barat serta kabupaten Batang dan kabupaten Kendal di sebelah utara.

Wonosobo sendiri juga merupakan wilayah pegunungan yang memiliki berbagai macam seni budaya. Salah satu yang paling populer adalah tari topeng lengger. Tari topeng lengger ini merupakan tarian yang banyak digemari oleh para masyarakat setempat dan dapat dipentaskan dalam sebuah upacara adat maupun pesta rakyat pada sebuah hajatan maupun hari besar.

Kesenian lengger ini dirintis di sebuah desa yang luas wilayahnya tidak terlalu luas namun memiliki kultur budaya yang menarik, yakni desa Gianti oleh salah seorang tokoh kesenian tradisional dari desa Kecis kecamatan Selomerto kabupaten Wonosobo oleh bapak Gondowinangun pada tahun 1910.

Tari topeng lengger biasanya dipentaskan dengan dibarengi tari Kuda Kepang yang sering orang Wonosobo menyebutnya dengan istilah emblek. Tari Kuda Kepang atau Jaran Kepang ini diiringi oleh gamelan jawa dan nyanyian yang dinyanyikan oleh seorang Sinden. Dalam kesenian tari topeng lengger ini ada hal yang sangat unik dan menarik, yaitu sebelum tarian topeng ini dimulai biasanya dilakukan ritual pemberian sesaji di tempat tempat yang akan dijadikan tempat pertunjukan. Tradisi ini masih dilakukan sejak tari lengger ini tercetus untuk menghormati leluhur atau penunggu tempat tersebut. Selain itu, ada hal lain yang juga cukup menarik, dalam tiap pertunjukan, akan ada beberapa penari yang kesurupan atau bahasa setempat disebut dengan (mendem) hal ini didasari oleh faktor masuknya roh ke dalam raga si penari.

Biasanya tarian ini disajikan minimal oleh 2 penari lengger (wanita) dan di tambah satu yakni penari yang mengenakan topeng (laki laki) yang biasa muncul saat pertengahan pertunjukan dimulai. Sebenarnya pagelaran lengger secara utuh sama saja seperti seni drama tradisional lain yang tentunya ditambah dengan seni tari dan dialog, namun yang menjadi pusat perhatian masyarakat hanyalah seni tariannya saja.

Zaman dahulu, tari topeng lengger mempunyai kesan yang kurang baik oleh masyarakat luas, karena seringkali disamakan dengan tari Ronggeng, namun seiring berjalannya waktu, paradigma tersebut berubah dengan sendirinya. Bahkan, saat ini sudah lahir banyak sekali penari profesional yang membuat suatu kelompok atau sebuah komunitas yang melahirkan anak cabang dari tari lengger itu sendiri, seperti Sidhung Lengger yang tetap berdasar pada tari lengger yang banyak dikenal masyarakat.

Meski ada beberapa anak cabang yang muncul, tidak membuat esensi sebenarnya dari tari lengger ini bergeser sedikit pun. Tari lengger yang original masih tetap dikenal masyarakat seperti biasa. Dan tentunya, pementasan tari lengger ini masih sama seperti biasa yakni di acara besar seperti upacara pernikahan, acara resmi atau peringatan desa, dan ritual wilayah lain. Meski demikian, tari topeng pun dapat terus dikembangkan sebagai bentuk kesenian yang difungsikan sebagai hiburan dan mempererat hubungan antar seluruh lapisan masyarakat. Sekian artikel dari kami, semoga bermanfaat dan sampai jumpa!

Oleh: Fita Ristiyana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peringatan 10 Muharram di Pesantren Fatanugraha

Bernyanyi Yakini Kurangi Beban dalam Diri