Peringatan 10 Muharram di Pesantren Fatanugraha

Suasana sejuk di desa Jambean, menyambut kedatangan para santri yang menampakkan wajah sumringahnya pada dunia. Bahkan, saking semangatnya akan mengikuti kegiatan tahunan di hari itu, mereka datang dan berkumpul sebelum waktu ashar tiba. Tidak hanya sekedar hadir dan mengikuti kegiatan tahunan tersebut, para Santti menyiapkan sendiri acara tersebut, itu sebabnya mereka hadir lebih awal. Benar sekali! Malam peringatan 10 Muharam atau yang sering disebut oleh Masyarakat jawa dengan bulan Suro ('Asyura).

Sebagian santri putri yang telah mahir dengan suasana dapur menyiapkan makanan yang akan dipersembahkan pada malam tersebut, mereka memasak bubur. Ada pun santriwati yang kebetulan belum mahir, juga tidak kebagian tugas masak, hanya duduk-duduk santai sembari berbagi cerita. Lain halnya dengan santri putra, yang mana sebagian dari mereka lebih memilih untuk berolahraga di bawah petang desa asri tersebut, dan sebagian yang lain sibuk dengan kegiatan cangkul-mencangkul mereka.   

Tak lama, adzan ashar berkumandang, semua santri bergegas pergi ke masjid untuk solat berjama'ah. Setelah Sholat, kegiatan wajib yang menjadi favorit banyak Santri adalah pembacaan Nadzom Alfiyah Ibnu Malik yang memang berjumlah 1000 bait, tapi mereka tidak menyelesaikan seluruhnya, hanya melanjutkan bacaan yang dikaji paling akhir. Yang menarik, para Santri tingkat Wustho atau setara dengan jenjang Sekolah Menengah Pertama, membaca Nadzom Khulasoh. Cukup lama berkutat dengan nadzom-nadzom tersebut, para santri akhirnya menyelesaikan rutinitas dan melanjutkan kegiatan pribadi mereka masing-masing.

Awan gelap mulai menutupi birunya langit petang itu, tak lama berselang pula, adzan maghrib berkumandang memenuhi langit-langit sore di desa asri Jambean. Para Santri bergegas mengambil wudhu untuk mengikuti Sholat berjamaah di Masjid Pesantren, tepatnya Masjid Al-Kautsar. Beberapa tamu undangan yang telah hadir untuk meramaikan acara malam nanti juga turut serta dalam sholat berjama'ah bersama para Santri.

Rabu, 18 agustus 2021. Acara peringatan 10 Muharram 1443 H dimulai ba'da maghrib sekitar pukul 18.30 WIB. Acara tersebut  dibuka oleh pembawa acara yang merupakan Santriwati dari Pesantren Fatanugraha yakni saudari Mardiyah dan Nova Aprilliana. Lepas acara benar-benar dibuka, pembacaan Al-Qur'an segera dilantunkan oleh Saudara Muhammad Yasin yang juga seorang Santri di Pesantren tersebut, ayat-ayat yang ia lantunkan turut menghangatkan suasana malam itu. Dilanjutkan dengan sesi pembacaan Al-barzanji yang dipimpin oleh saudari Atin sholekhati dan saudari Laila Rizki serta diikuti oleh seluruh Santri beserta tamu undangan yang hadir. Lantunan-lantunan Al-Barzanji mengisi sunyinya malam di masjid Al-kausar hingga asyroqol dan ditutup do'a oleh pak Abdullah. 

Sampai pada acara inti, pembawa  acara  menutup seluruh rangkaian acara lantas menyerahkan sisa waktu sepenuhnya pada Bapak KH. Ahmad Muzan M. Pd. I untuk menyampaikan inti dari peringatan acara 10 Muharram yang digelar oleh Pesantren Fatanugraha. Banyak yang beliau sampaikan, terutama tentang kemuliaan bulan Muharram yang memang menjadi ikon pada malam tersebut. Beliau juga menyampaikan amalan- amalan sunnah yang bisa dilakukan pada 10 asyuro. Ada 12 amalan yang disampaikan beliau lewat Nadzom yang tercantum dalam sebuah kitab berjudul Kanzun Naja. 

Amalan yang pertama adalah puasa, kemudian melakukan solat sunnah, sambung silaturrahim, sowan orang alim, menjenguk orang yang sakit, menggunakan celak (pensil alis) beliau mengatakan, menggunakan celak pada 10 asyuro bisa menghindarkan kita dari penyakit mata, amalan berikutnya adalah mengusap kepala anak yatim untuk disodaqohi, shodaqoh, mandi sunnah asyuro, membuat bahagia keluarga, memotong kuku, dan membaca surat al-ikhlas 1000 kali. Beliau menyampakain dengan penuh khitmad hingga semua  terpaku untuk mendengarkan  beliau.

Usai mengisi tausiyah dengan antusias, beliau mempersilakan anak-anak yatim bersama orang tua mereka untuk maju ke depan. Satu per atu dipanggil dan diberi bingkisan serta angpau. Ada rasa terharu saat melihat prosesi tersebut, ada yang telah kehilangan ayah dan ada yang telah kehilangan ibu. Setelah itu, beliau menutup acara dengan doa asyuro bersama-sama. Kemudian seluruh santri dan tamu undangan melaksanakan solat 'Isya berjamaah dan dilanjutkan makan bubur syuro bersama-sama.   


Oleh: Nova Apriliyana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selayang Pandang Tentang Kota Asri Wonosobo

Bernyanyi Yakini Kurangi Beban dalam Diri